X
 


Masyarakat Adat Samosir Bius Sitolu Hae Horbo Gelar Ritual Di Danau Toba Songsong Pembangunan WFC

Charles - Oct 02, 2022 16:07:20

SAMOSIR, sinarpagibaru.id - Masyarakat Adat Kecamatan Pangururan Bius Sitolu Hae Horbo (marga Naibaho, Simbolon dan Sitanggang) bersama PT Hutama Karya, perusahaan pemenang tender pembagunan Water Front City menggelar acara ritual adat Mangelek (Membujuk) Namboru Naitang dan leluhur yang bersemayam di Danau Toba, Sabtu (1/10/2022) di tepi pantai Jalan Putri Lopian, Desa Pardomuan I, Kabupaten Samosir.

Ritual Adat Mangelek tersebut diwujudkan sebagai langkah awal untuk menghormati adat budaya Daerah setempat sekaligus memohon doa, supaya selama aktifitas kegiatan pembagunan Water Front City (WFC) Konsep pengembangan daerah tepian air baik itu tepi pantai, sungai ataupun danau) yang akan dimulai pengerjaanya senantiasa mendapatkan kelancaran dan keselamatan.

"Kami memohon kepada leluhur yang bersemayam di Danau Toba ini, terkhusus Namboru Naitang agar senantiasa memberikan kelancaran serta keselamatan selama pembagunan Water Front City ini berlangsung," ujar Arifin Naibaho dalam doanya mewakili dari pihak rumpun marga Naibaho.

Senada dengan itu, Naris Sitanggang mewakili Marga Sitanggang dan Daulat Simbolon mewakili Marga Simbolon, dalam doanya juga meminta agar leluhur yang bersemayam di Pusuk Buhit (dolok natimbo-red), menjauhkan segala marabahaya.


Sementara Ketua Forum Komunikasi Tokoh Masyarakat (FKTM) Kabupaten Samosir Obin Naibaho mengatakan bahwa pembangunan Water Front City tersebut adalah untuk kemajuan Kabupaten Samosir memperindah tepi pantai Danau Toba dikawasan Jalan Putri Lopian Pangururan.

Selanjutnya, Obin mengajak seluruh masyarakat Samosir khususnya warga masyarakat Pangururan agar mendukung pembangunan Water Front City tersebut demi kemajuan pembangunan yang nantinya dapat dinikmati masyarakat.

Perwakilan dari PT. Hutama Karya (Persero), Manager Proyek Prajapati Hutomo mengakui indahnya Danau Toba dan mengaku senang menyaksikan pelaksanaan Adat Budaya yang dilaksanakan masyarakat setempat.

Ditambahkannya, waktu pengerjaan proyek ini singkat, hanya 350 hari kerja, untuk itu kita juga sangat berharap dukungan dan kerjasama masyarakat dalam pelaksanaannya, kata Prajapati Hutomo.

Usai acara ritual, semua undangan dipersilahkan untuk makan bersama,  dan diakhir kegiatan bagian dari adat budaya Batak Tobo ini, 

Manager Proyek Prajapati Hutomo diulosi oleh Bius Sitolu Hae Horbo, di Tanjung Horbo, Negeri Indah Kepingan Surga, Pulau Samosir. (luhut sijabat)