Wujudkan Misi Kesejahteraan, Kementerian ATR/BPN Dorong Pegawai Milenial Miliki Rumah Layak Huni

SPB - Nov 23, 2021 21:07:07

SINAR PAGI BARU, JAKARTA – Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) mendorong para pegawainya, terutama kaum milenial yang berada di wilayah satuan kerja (satker) DKI Jakarta dan Banten untuk memiliki rumah layak huni. Selain untuk tempat tinggal dan berlindung, rumah yang merupakan bagian dari properti dapat menjadi investasi yang menjanjikan di masa depan karena nilainya yang dapat terus meningkat.

Kepala Biro Organisasi dan Kepegawaian Kementerian ATR/BPN, Deni Santo mengatakan bahwa dukungan tersebut sejalan dengan salah satu misi Kementerian ATR/BPN dalam rangka menyejahterakan seluruh pegawainya. Hal ini disampaikan dalam Webinar bertajuk “Solusi Mudah Punya Rumah Pascapandemi” yang diselenggarakan bersama Bank BTN pada Senin (22/11/2021) secara daring.

“Kementerian ATR/BPN bukan hanya bisa memberikan gaji, tunjangan kinerja, dan tunjangan sosial, tapi bagaimana rekan-rekan kita yang belum mempunyai rumah itu difasilitasi, termasuk dengan TAPERA (Tabungan Perumahan Rakyat). Sekarang untuk mengakses DP-nya, diberikan kemudahan untuk mendapatkan perumahan bersubsidi. Kemudian pada Mei 2021, Kementerian ATR/BPN terus meng- update datanya agar kita bisa memfasilitasi bukan hanya di Jakarta dan Banten saja, tapi juga tempat-tempat lain,” ujar Deni Santo.

Berdasarkan data Sistem Informasi Kepegawaian (SIMPEG) Kementerian ATR/BPN, sebanyak 1.129 pegawai berusia milenial, yakni 21-40 tahun di wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten. Kepala Biro Organisasi dan Kepegawaian menyebutkan, para pegawai berpotensi untuk mendapatkan fasilitas mengakses program perumahan bersubsidi dari Bank BTN. Menurutnya, ada beberapa kendala para kaum milenial untuk memiliki rumah, misalnya ketidaksiapan membayar uang muka serta kekhawatiran tidak mampu membayar cicilan.

Sementara itu, Deni Santo melanjutkan kendala lain bagi para Pegawai Negeri Sipil (PNS), yaitu selalu muncul kekhawatiran sewaktu terjadi mutasi. Kalau misalnya kredit, bangunan belum selesai, belum dipakai, harus pindah, sementara yang lama harus tetap dicicil. “Kemudian gaya hidup konsumtif. Kebanyakan milenial sekarang kelihatannya lebih mengutamakan pemanfaatan uang untuk kebutuhan harian. Lalu persoalan lainnya harga properti yang terus meningkat,” tuturnya.

“Diharapkan nanti, kerja sama dengan Bank BTN tidak hanya untuk pengurusan Hak Atas Tanah, tapi bisa digunakan juga untuk memfasilitasi teman-teman mengakses rumah layak huni yang pembiayaannya dari Bank BTN. Jadi, kaum milenial di Kementerian ATR/BPN punya optimisme untuk memiliki rumah layak huni. Kebanyakan level pelaksana masih indekos atau bersama orang tua,” tambah Deni Santo.

Turut mendukung misi Kementerian ATR/BPN, Pimpinan Kantor Wilayah II Jakarta-Banten Bank BTN, Dewi Fitrianingrum, mengatakan bahwa seiring berjalannya waktu, dalam masa pandemi dan pascapandemi ini, banyak masyarakat ingin memiliki rumah yang sehat, layak, dan bisa bernilai di kemudian hari. Ia memastikan, nilai rumah selalu naik dibandingkan dengan instrumen investasi lain. “Kalau kita memiliki properti yang bagus, kemudian dalam jangka panjang mendekati jalur transportasi, jalur tol, kemudian juga dekat dengan komersial, nilai propertinya semakin meningkat,” paparnya dalam kesempatan yang sama. (Gtg)

Berita Terkait