Perang Dingin AS-Cina, Cina Kendor

SPB - Jun 07, 2020 14:40:12

SINAR PAGI BARU – CINA.

Ketegangan bermula ketika Amerika Serikat (AS) masih belum menemukan kesepakatan dengan Cina untuk mempermudah maskapai AS mendarat di bandara internasional negeri tirai bambu, bahkan kedua negara mengancam untuk menutup rute penerbangan satu sama lain.

Maskapai asal AS, berupaya untuk kembali terbang menuju China pasca-penghentian sementara akibat dari pandemi virus Covid-19. Namun, Beijing sejak awal Maret lalu masih belum memberikan persetujuan.

Kemudian, Kamis (4/6), AS mengancam akan melakukan hal yang sama terhadap Cina, melarang maskapai penerbangan asal Cina ke AS.

"Tujuan kami bukanlah untuk memperpanjang masalah ini, melainkan untuk mencari keuntungan dan dapat memenuhi hak bagi kedua belah pihak," ujar Departemen Penerbangan AS.

Usai statement negeri paman sam itu, Pemerintah Cina kendor memberikan pelonggaran layanan penerbangan asing, hal itu disampaikan Badan Pengawas Penerbangan Sipil China (CAAC) melalui situs resmi mereka.

Disebutkan, maskapai-maskapai yang tidak masuk dalam daftar bulan Maret itu kini bisa melakukan penerbangan sekali seminggu. Pengumuman itu seolah membuka pintu bagi United dan Delta, Sayangnya, pihak CAAC tidak menjelaskan perusahaan penerbangan mana yang dimaksud mereka.

Kendati demikian, disampaikan ada pembatasan sejak merebaknya wabah corona, masih ada penerbangan menuju ke China yang terus diizinkan sejak Maret lalu, ada satu kali dalam seminggu.

Sedangkan untuk maskapai yang pernah menghentikan layanan mereka seperti United dan Delta, kini keduanya tengah memohon izin kembali untuk memulai layanan mereka ke China.

Bahkan dikatakan, maskapai penerbangan asing saat ini bisa meningkatkan frekuensi penerbangan mereka menjadi dua kali seminggu jika selama tiga pekan berturut-turut terbukti tidak membawa penumpang yang positif terinfeksi virus corona. Dan jika mereka membawa penumpang yang positif maka pihak CAAC akan menghentikan layanan maskapai itu. (And/rnl/ist)

 

(Foto: ilustrasi gambar/ist Caixin Global)

Berita Terkait