Marga Butar-Butar Sakit Hati Disebut Direktur Pemasaran BPODT Ganti Untung

SPB - Oct 08, 2019 18:11:54

SINAR PAGI BARU – SUMATERA UTARA.

Salah satu warga masyarakat Desa Sigapiton dari keturunan Op. Odol Butar-Butar merasa sakit hati dengan ucapan Direktur Pemasaran Badan Penyelenggara Otorita Danau Toba (BPODT), Basar Simanjuntak, karena menyebut di salah satu pemberitaan media massa menyatakan “Ada pemakaman, itu tetap ada ganti rugi, atau istilahnya saat ini ganti untung”.

Seakan-akan masyarakat ngambil untung cari-cari celah mendapat uang besar dari situasi dan juga seolah-olah dibentuk opini bahwa penduduk menolak pembangunan wisata Danau Toba di Desa Sigapiton yang memang adalah tempat warga keturunan Op. Odol Butar-Butar hidup turun-menurun.

Ia mengatakan, memang tidak dapat dipungkiri program mengembangkan wisata Danau Toba melalui BPODT yang digadang-gadang di era Pemerintahan Presiden Joko Widodo adalah proyek masa depan masyarakat disekitar Danau Toba.

Akan tetapi pada prosesnya, ada penderitaan dan air mata warga yang kena dampak, ada 144 kepala keluarga, salah satunya marga Butar-Butar keturunan dari Op. Odol Butar-Butar yang sudah ada sebelum Indonesia merdeka di wilayah di Desa Sigapiton, Kecamatan Aji Bata, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara.

Ia pun saat diwawancara wartawan media ini secara langsung menceritakan, sejak digembor-gemborkannya BODT, tahun 2018 lalu, pihak BPODT mengklaim tanah desanya adalah BPODT melalui surat keputusan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Tanpa pemberitahuan atau sosialisasi, mereka turun langsung untuk mengusir kami dari tanah nenek moyang kami, yang sudah kami tempati sebelum Indonesia merdeka, diklaim langsung adalah milik KLHK yang dialihkan ke BPODT. BPODT sekarang mengusir kami”, ungkapnya.

Ia kemudian menjelaskan bahwa kuburan leluhur mereka pun yakni Op. Odol Butar-Butar sudah ada di Desa Sigapiton sejak dulu. Dan mereka, turun menurun sudah hidup bercocok tanam sejak dahulu kala hingga saat ini, dan keturunan Op. Odol Butar-Butar punya sejarah disini, jelasnya.

Dikutip dari laman Gatra.com, Direktur Pemasaran BPODT, Basar Simanjuntak, menyampaikan bahwa tidak ada rumah atau tempat tinggal di atas 279 hektar lahan yang saat ini menjadi milik mereka. "Di atas 297 rumah tidak ada rumah, lahan kosong. Ada pertanian kopi, coklat, tidak masif. Ada pemakaman, itu tetap ada ganti rugi, atau istilahnya saat ini ganti untung," jelasnya di Kantor DPD PDIP Sumut, Jumat (20/9).

Diketahui sebelumnya, beredar video yang sempat viral dan menghebohkan beberapa bulan lalu, emak-emak sampai telanjang menghalangi pengusiran warga penduduk dari keturunan dari Op. Odol Butar-Butar atas tanah yang sudah mereka tempati turun menurun.

Menurut ketua-ketua adat yang dikonfirmasi media ini mengenai tuturan marga Butar-Butar, marga ini memiliki hubungan sangat erat dengan marga lain yaitu, marga Manurung, marga Sitorus, dan marga Sirait, yang disebut Nairasaon. (tamaro sijabat)

(Foto: ist.)

Berita Terkait