Kisah Mantan Nahkoda Kapal Sekarang Sukses Provesi Pengacara, Samuel Bonaparte Raih Firm Top Tier Dalam 3 Tahun

SPB - Apr 15, 2019 12:00:27

Oleh: Capt. Samuel Bonaparte Hutapea, A.Md, S.E., S.H., M.H., M. Mar

BOSAN mengelilingi bumi sebagai nakhoda kapal membawa saya mendaftar ke Fakultas Hukum Universitas Indonesia dengan bermodalkan niat dan sedikit (atau banyak) sotoy bahwa “Pasti Bisa” dan bermimpi mematahkan tanduk “raksasa” jahat, congkak, aiueo. Bertahun-tahun sebagai TKI (pelaut juga TKI) dan merasakan langsung ketidakenakan dan ketidakadilan sebagai TKI membuat saya berontak dan mencoba melawan sistem dengan cara baru yaitu mempelajari hukum.

Saya, Captain Samuel Bonaparte Hutapea, mendirikan kantor hukum SAMUEL BONAPARTE bersama rekan saya Ridha Sjartina pada tahun 2014 dan mendapatkan rangking Legal 500 Asia Pacific Top Tier Law Firm, untuk Shipping/Maritime dan Second Tier pada Aviation pada tahun 2017, kurang dari 3 tahun sejak kantor tersebut berdiri (yang mencapainya lebih cepat silahkan angkat tangan dan saya sarankan menuliskan tips untuk kawan dan adik praktisi hukum guna memberi mereka inspirasi).

Saat masih kuliah, akibat kesulitan mencari tempat magang membuat saya “magang” sendiri, saya mulai gugat siapapun yang saya rasa memenuhi unsur untuk belajar secara langsung. Disalah satu persidangan awal, di akhir agenda sidang “pembuktian”, hakim menanyakan kepada para pihak termasuk saya, “apakah ada yang ingin disampaikan? Jika tidak sidang saya tutup dan minggu depan kesimpulan”, saya hentikan hakim sebelum dia mengetuk palu, “Yang mulia hakim, sejak awal sidang hingga sekarang, saya belum diberi kesempatan mempresentasikan argumen saya”, hakim dan seluruh pengunjung tertawa dan mengatakan, “memangnya anda pikir ini di kampus ada presentasi, minggu depan kesimpulan!” palu diketuk dan hakim meninggalkan ruangan (oalah malunya!).

Salah satu kasus yang berhasil saya menangkan di tahun kedua di UI adalah melawan salah satu perusahaan pelayaran terbesar di dunia, berargumen dengan pengacara dari Denmark dapat dimenangkan bermodalkan logika selama hidup, pelajaran 4 semester, membaca buku dan diskusi dengan dosen (terutama PA saya di UI Ibu Sri Laksmi Anindita). Kalau ada 2 hal yang saya ambil dari kasus tersebut adalah 1. Pengetahuan dasar itu sangat penting, kalau dasar tidak kuat, keatasnya bisa roboh. 2. “Berperang” perlu ketahanan fisik dan logistik. Sampai hari ini saya menyesal karena menerima tawaran damai dari mereka pada kali pertama, saat itu logistik saya sudah habis, “perang” dengan perusahaan sebesar mereka membuat saya kehilangan akses ke banyak perusahaan, sehingga saya terpaksa menerima penawaran damai dengan nilai yang tidak maksimal.

 

Setelah lulus dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia, saya bertekad tidak “bermain” di ranah Hukum Maritim, pikir saya, “kalau saya unggul di hukum maritim, ya-iya-lah-ya, secara nakhoda” saya ingin robohkan orang di permainannya sendiri, saya ingin kalahkan Valentino Rossi di balapan motor saya ingin kalahkan Alm. Bang Adnan Buyung di kasus HAM atau bidang hukum lain yang beliau kuasai (Sotoy tingkat dewa toh?). Masuk magang ke beberapa kantor hukum di Jakarta akhirnya membuat saya membaca “peta” dunia hukum (pelaut pastilah bisa baca peta), disitu saya sadari bahwa meskipun mungkin dilakukan, tetapi belasan hingga puluhan tahun akan dibutuhkan untuk menjadi sakti di suatu bidang, tetapi saat kesaktian belasan tahun sudah saya pegang, kesaktian Bang Adnan sudah Puluhan Tahun, macam mana saya lawan dia. Akhirnya dengan berat hati dan tahu diri, saya kembali ke wilayah saya yaitu hukum maritim.

Medadak saya seperti dewa, mempecundangi yang mengaku/katanya lawyer maritim menjadi hal yang biasa. Sangat pesat perkembangan yang didapat dalam bidang hukum, tidak sulit dalam hukum maritim mengalahkan lawan yang mungkin belum pernah naik kapal sama sekali.

Dengan tingkat ke-sotoy-an yang semakin meningkat, sampai akhirnya membuka dan terjun penuh menjalankan kantor hukum SAMUEL BONAPARTE tersebut dengan menjual asset/rumah saya untuk modal awal, 6 bulan pertama hanya mendapat 1 kasus dengan bayaran hanya Rp30an juta, kapal sudah hampir kandas. Yakin dengan potensi yang ada, saya ambil pinjaman dan kembangkan publikasi, cetak brosur, cetak kalender, cetak buku, aiueo., hingga ribuan jumlahnya untuk kemudian hendak dikirim ke penjuru bumi. Namun satu hal yang kami lupa, bahwa pengiriman ternyata bisa lebih mahal dari cetaknya, terutama keluar negeri. Tidak putus akal, kami hubungi kawan2 yang tinggal diluar negeri dan meminta bantuan mereka, sehingga kami kirim semuanya ke alamat mereka lalu mereka yang meneruskan ke kantor pos setempat sebelum ke tujuan akhir.

Dalam penanganan kasus, mengalahkan lawan itu hal biasa dan buat kami hal itu tidak cukup. Kami haus akan TKO dan harus merobohkan lawan sedemikian rupa sehingga dia tidak akan berani merugikan orang lain lagi, demikian filosofi yang ada di kantor. Jika harus dibagi, maka ada 3 hal yang harus diperhatikan dalam menangani perkara:

Pertama, detil perkara sangatlah penting sebab detil bisa membalikkan suatu keadaan. Dalam salah satu kasus pembuatan kapal yang diklaim galangan sudah siap delivery, ternyata ketiadaan dokumen pendukung untuk port clearance/ijin berlayar menyelamatkan perkara tersebut, karena tidak mungkin kapal dapat dilayarkan tanpa port clearance (kecuali satu kru kapal siap diborgol, itu lain cerita).

Kedua, kesungguhan. Buatlah draft dokumen atau tanganilah perkara seakan-akan itu adalah kasus diri kita sendiri, seakan-akan diri kita sendiri yang dirugikan. Bukan tanpa alasan dan bukan omong belaka bahwa SAMUEL BONAPARTE tidak menerima kasus-kasus dugaan korupsi, hal tersebut bertentangan dengan nurani kami, karena buat kami bagaimana mungkin kami dapat memposisikan diri kami di posisi tersebut.

Pada sekitar 2016, kami dihubungi dan diwawancarai oleh Legal 500 United Kingdom dan di akhir tahun itu kami mendapat rangking Top Tier Firm pertama kalinya yaitu untuk 2017. Pada survey berikutnya perasaan takut dan tidak tenang muncul kalau-kalau tidak lagi terpilih, kemudian bertekad jika terpilih lagi untuk tahun 2018 akan saya buat artikel supaya boleh ditiru oleh kawan/junior, ternyata di tahun 2018, justru SAMUEL BONAPARTE memperoleh banyak pengakuan dan rangkin tidak hanya dari Legal 500, namun lembaga lain seperti Asian Legal Bussiness, IFLR1000, Benchmark Litigation, aiueo. Namun setelah mendapatkan rangking tersebut, kesibukan kerja membuat banyak rencana penulisan artikel dan buku (termasuk artikel “Bagaimana Menjadi Nakhoda di Usia 25 pada Perusahaan Pelayaran Terbesar di Dunia?”) menjadi tertunda hingga saat ini.

Ketiga, penguasaan materi adalah wajib. Akan menjadi omong kosong bahwa kita akan kuat jika tidak menguasai materi. Berapa banyak mahasiswa maupun para lulusan baru yang tidak bisa menjelaskan beda delik pencurian dan penggelapan, berapa banyak dalam magang seorang SH beralasan bahwa masih baru lulus sehingga belum tahu/hafal/paham (selalu saya bantai bahwa dari sejak di kampus hal itu harusnya dikuasai).

Selain dari hal diatas, jika masih ada yang bisa saya bagikan bagi yang berkenan dan memerlukan, adalah jangan tunggu punya Tank baru menyerang, jangan tunggu kondisi sesuai yang kita inginkan baru bergerak, tetapi menyeranglah meski dengan batu atau bambu runcing. Bergeraklah jika mungkin agar kita sendiri yang ciptakan kondisi yang diinginkan tersebut. Lalu, jangan terlalu pedulikan orang yang berkomentar (baik positif atau negatif), terutama yang negatif, apalagi jika datang dari lingkaran kita sendiri, karena sedemikian dekatnya, sehingga menjadi yang paling sulit melihat kita seutuhnya, ingat kata Dory “just keep swimming”.

Passion sangat penting, sulit menjadi hebat dalam satu hal jika kita kurang menyukai hal tersebut, sebagaimana sering saya ingatkan kepada adik-adik baik di hukum maupun di lingkungan pelaut, bahwa hidup hanya satu kali, kita tidak akan lolos hidup-hidup dari dunia ini, baik yang menyukai pekerjaannya maupun yang tidak, maka pilihlah karir yang kalian suka dan jadilah sakti didalamnya (karena toh akan mati juga). Hugo Grotius atas penelitiannya di Nusantara bisa menjadi Bapak Hukum Internasional, tetapi ketua adat dan seluruh bangsa Indonesia yang memberi informasi kepadanya tidak dikenal. Kalau seorang Capt. Samuel saja bisa, masa kalian tidak? Ayo, saya tantang kalian untuk lakukan lebih baik. Fiat Justitia Ruat Caelum – Jalesveva Jayamahe, Captain. Samuel Bonaparte, over and out.

 

Penulis adalah Pendiri dari kantor hukum SAMUEL BONAPARTE, Top Tier Law Firm Legal 500 Asia Pacific 2017, 2018 & 2019, konsultan maritim dengan sekitar 13 tahun pengalaman dan Advokat pada Peradi.

Berita Terkait