Kerusuhan di AS, Wartawan Jadi Sasaran Polisi

SPB - Jun 05, 2020 14:05:00

SINAR PAGI BARU – USA.

Forum Komunikasi Media Independen yang berbasis di Jakarta, Indonesia mengecam aksi serangan polisi di Amerika Serikat (AS) yang menargetkan wartawan saat mereka melakukan tugas peliputan jurnalistik.

Diketahui situasi kerusuhan di negara pencetus demokrasi itu tengah terjadi hingga berhari-hari sebagai bentuk aspirasi masyarakat atas insiden George Flyod yang tewas ditempat akibat dari perlakuan kepolisian setempat.  

Untuk mengantisipasi kerusuhan membesar, Presiden Donal Trump mengancam akan kerahkan militer untuk mengamankan situasi aksi tersebut.

Terkait dengan adanya serangan terhadap wartawan yang terjadi dalam kerusuhan di Amerika Serikat itu, menurut Ketua FKMI Andre Irwansyah adalah hal yang cukup mengejutkan pasalnya negeri Paman SAM sejak dulu diketahui sebagai negeri yang paling demokrasi dan selalu menjaga fungsi kontrol sosial seperti wartawan. Mereka juga selalu menjunjung tinggi kebebasan berekspresi.

Aneh dan miris, kami juga terkejut melihat aksi-aksi brutal polisi menargetkan serangan terhadap wartawan-wartawan yang sedang meliput. Bahkan dalam satu atau dua kasus ada wartawan yang ditembak dan disemprot cairan merica secara langsung walau mereka sudah menunjukkan identitas dan menggunakan helm bertuliskan Pers,” tegas Andre melalui pernyataan resminya pada Kamis (4/6) hari ini.

Menyikapi peristiwa itu, Andre menegaskan, pihaknya akan berkoordinasi dengan seluruh organisasi wartawan di Indonesia agar bersatu dan bersama-sama memberikan support dan kecaman bagi pihak berwenang AS dan menuntut mereka meminta maaf atas serang-serangan yang dengan sengaja dilancarkan kepada wartawan.

Apalagi serangan dilakukan saat mereka melakukan siaran langsung, seharusnya pihak berwenang AS malu dengan identitas yang mereka sandang selama ini sebagai negeri yang paling demokratis alias gurunya demokrasi global. Sungguh perbuatan yang memalukan dan rendah, bahkan bisa dibilang bar-bar,” ucapnya.

Andre menyerukan pihak AS untuk segera menghentikan serangan-serangan terhadap awak media pasalnya mereka melakukan tugas mulia demi kepentingan publik.

Wartawan itu bukan teroris dan tidak terlibat dalam aksi apapun, mereka hanya menjalankan tugas mereka sebagai kontrol sosial, menjadi consiliator ditengah sosio komunal masyarakat. Harusnya AS melindungi dan memberikan rasa aman bagi mereka agar bisa menjalankan tugasnya dengan baik. Sekali lagi, kami mengutuk keras dan mengecam semua serangan yang menargetkan wartawan saat ini,” pungkasnya.

Diketahui, dari informasi yang dihimpun jaringan media ini, puluhan wartawan menjadi korban penyerangan aparat kepolisian saat mereka melakukan liputan aksi damai mendukung George Floyd yang tewas ditangan polisi Minneapolis Derek Chauvin.

Ada wartawan foto Linda Tirado yang ditembak mata kirinya dengan peluru karet hingga mengalami buta permanen di Minneapolis, reporte HuffPost AS Chris Mathias ditangkap saat sedang meliput di New York, korespondenasing Swedia Nina Svanberg yang dipukul dikakinya dan ditembak peluru karet pada Jumat (29/5) lalu.

Sementara itu, wartawan dari CBD News mengatakan, polisi masih terus meletuskan tembakan kearah krunya dan wartawan lain kendati mereka sudah menyebutkan wartawan dan menunjukkan identitas mereka.

Wartawan lain yang menjadi korban adalah dari Canadian Broadcasting Susan Ormiston, dia dipukul dengan tabung gas saat meliput aksi, wartawan dari VICENews Michael Anthony Adams ditodongkan senjata walau dia sudah mengatakan sedang merekam aksi. Belum lagi reporter CNN Omar Kiminez yang ditangkap saat sedang melakukan siaran langsung. Dia bersama krunya dihampiri polisi dan ditangkap pada Jumat lalu, namun akhirnya beberapa saat kemudian mereka dibebaskan kembali oleh petugas. (And/rnl/ist)

Berita Terkait