Isu Peralihan Asset RRI Naik Ke Publik, Frederik Ndolu Malah Dilapor Pencemaran Nama Baik

SPB - Jan 07, 2021 01:08:58

SINAR PAGI BARU – JAKARTA.

Lantaran isu peralihan asset milik Lembaga Penyiaran Publik (LPP) Radio Republik Indonesia (RRI) yang ada di Kompleks RRI Cimanggis, Depok, ke Kementerian Agama menjadi Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), naik ke publik salah satu anggota dewan pengawas LPP-RRI, Frederik Ndolu, dilaporkan ke Polda Metro Jaya oleh Direktur Utama LPP-RRI, M. Rohanudin.

Laporan polisi itu terkait dengan dugaan pencemaran nama baik dan pelanggaran UU ITE sekitar bulan Juni tahun 2020 lalu. Frederik Ndolu diperiksa Reskrimsus Polda Metro Jaya pada tanggal 7 Desember 2020 lalu. Atas tuduhan itu dia merasa sangat keberatan, ada 20 pertanyaan yang diajukan penyidik dan sudah terjawab semua dengan baik dan benar, ujar Frederik di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (6/01/2021) usai sidang gugatan perbuatan melawan hukum terkait dengan pengalihan fungsi asset RRI.

Terkait dengan laporan itu, Frederik Ndolu sebagai saksi didamping kuasa hukumnya Zaenal Arifin SH, MH dan Abdul Haris Tokan, SH. Zaenal Arifin mengatakan bahwa bahwa pada waktu di BAP tersebut hanya sebatas klarifikasi sebagai saksi terlapor, pemeriksaan dari jam 10.00 - 16.00 wib. Zenal berpandangan bahwa ada motif tujuan laporan Direktur Utama RRI agar bagaimana pak Frederik ditahan, jelas Zaenal.

SIDANG PERKARA MELAWAN HUKUM.

Rabu, 6/01/2021, Pengadilan Negeri Jakarta Pusat kembali menggelar persidangan sengketa Perkara Perdata No.655/pdt. G/2020/PN Jkt.Pst antara Frederik Ndolu atas nama Anggota Dewan Pengawas menggugat Dirut RRI, Menteri Agama, Menteri Keuangan, Menteri ATR/BPN, Kakan BPN Kota Depok, Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama, PT Waskita Karya, PT Wijaya Karya, PT Brantas Abipraya terkait dengan pembangunan Univerisitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Kementerian Agama di Kompleks RRI Cimanggis, Depok.

Disayangkan, agenda kali ini pihak Tergugat 4 yakni Kementerian ATR/BPN Cq Kepala Badan Pertanahan (BPN) Kota Depok sudah 2 kali dipanggil tidak hadir. Oleh karena itu pengadilan akan melakukan pemanggilan terakhir, dan bila sidang minggu depan tidak hadir juga maka Ketua Majelis Hakim yang menyidangkan perkara ini akan melanjutkan sidang tanpa kehadiran BPN Kota Depok.

Terkait persidangan ini, Anggota Dewan Pengawas (Dewas) LPP RRI Frederik Ndolu yang tampak mengikuti persidangan di kursi pengunjung, dalam keterangan persnya dan saat dikonfirmasi wartawan media ini menyampaikan bahwa sidang kali ini adalah pembacaan gugatan.

Menurutnya, Dirut RRI tidak memahami fungsi dan tugas LPP-RRI. Pengalihan asset RRI seluas 143 hektar kepada Kementerian Agama ini dapat mengganggu pendengar di luar negeri maupun pelosok negeri tidak dapat mengakses siaran RRI melalui sw dan mw, siaran luar negeri hancur alias terputus dengan pendengar voice of indonesia, kecuali via internet, kata Frederik Ndolu.

Sebelumnya dia sudah tiga kali melayangkan somasi melalui kuasa hukumnya Zaenal Arifin namun tidak ditanggapi oleh Dirut M. Rohanudin untuk mengklarifikasi kebijakannya itu, sehingga dia mengajukan Gugatan Perbuatan Melawan Hukum pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Frederik memberikan penjelasan juga terkait dengan harga lahan, jika berdasarkan harga tanah Cisalak Cimanggis sesuai NJOP 2019 per meter adalah Rp 2.500.000/M2 maka total harga tanah adalah adalah Rp 3.575.000.000.000 (tiga triliun lima ratus tujuh puluh lima miliar rupiah). Ditambah harga tower dan pemancar sekitar Rp 700.000.000,-. Sehingga total kerugian adalah sebesar Rp 4.375.000.000.000,- (empat triliun tiga ratus tujuh puluh lima miliarad rupiah).

"Hasil kunjungan saya sebagai dewas yang menangani bidang teknologi penyiaran dan media baru. Bahwa kampus UIII dibangun dengan Megah di lahan RRI dengan biaya APBN kurang lebih  4 triliun. Bangunan itu berdiri di atas tanah Kompleks RRI seluas 143 ha dengan nilai sekitar 2-5 juta per meter x 143 ha," jelas Frederik Ndolu, yang juga disampaikannya dalam sebuah Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi I DPR tahun 2019 lalu.

Lebih lanjut dia mengatakan, bahwa tampak juga semua pemancar sudah hancur, 7 Genset kekuatan 2 mgwt sudah dipreteli pencuri, alat-alat vital pada pemancar dan kabel bawa tanah dijarah oleh maling karena praktis dijaga oleh Kemenag. Sementara 18 tower berjejer sudah dirubuhkan untuk percepatan pembangunan UIII.

Frederik juga menyinggung pernyataan Jusuf Kalla dan sangat prihatin mendengarnya yang dia ketahui dari majalah tempo yang mengatakan RRI pake internet saja, Pak JK bilang tidak ada kerugian negara.

Agar semua tau bahwa main bisnis RRI adalah Radio yang kini memasuki era multiplatform dan lokasi sebesar itu yang letaknya strategis tidak lagi ditemukan di hampir semua ibukota negara di dunia," tutup Frederik Ndolu. (charles sijabat/red)

Berita Terkait